Beberapa Alasan Utama Mengapa Bisnis Hotel Harus Merubah Diri


Saya pernah mengatakan pada event " Innovate Startup" di Gili Trawangan- Lombok pada bulan Feb. 2020. Seharus nya hotel sudah move on dari pola fikir Room Centric yang sudah di warisi jauh sebelum era millenial.

Sungguh suatu paradigma lama yang membuat industri ini menjadi kelihatan sebagai suatu industri yang sangat tradisional , Kuno dan outdated. Di tambah banyaknya para leader dari Industri ini yang agak susah move on dan susah di ajak berfikir progressive untuk mengikuti perkembangan jaman yang serba digital.

Karena, customer sekarang sudah sangat dimanjakan dengan marketplace yang banyak dimana customer benar-benar dimanjakan dengan layanan yang hampir zero friction.

Bandingkan dengan pengalaman kita yang mencoba memesan kamar hotel secara langsung ke hotel, tentu anda akan terheran-heran bagaimana anda dilayani. Typical jawaban karyawan hotel antara lain: nanti kami kirim surat konfirmasi nya ( biasanya 1 x 24 Jam), harga yang di tawarkan ke anda jauh lebih mahal dari OTA - Online Travel Agent ( very weird, isn't it), kalau anda komplain mereka akan bilang pesan saja ke OTA ( makin aneh ).

Sungguh mereka tidak memahami bagaimana prinsip dunia digital adalah menghilangkan friksi dan sayangnya mereka tidak menyadari hal itu. Dan masih banyak lagi yang kalau kita bahas satu persatu keanehan keanehan dari pola fikir yang sudah out of date.

Dan pada masa wabah ini, banyak hotel yang tidak punya pilihan kecuali menutup hotel untuk sementara dan merumahkan karyawan mereka. Padahal, masih banyak kesempatan yang bisa di jadikan revenue seperti meningkatnya permintaan pasar terhadap produk F&B pada masa wabah saat ini.

Tetapi pelanggan yang perlu di ingat bahwa pelanggan tidak datang ke hotel untuk makan atau minum. Oleh karena itu hotel harus membangun model bisnis Delivery service dan memiliki platform digital nya. Saya melihat sudah banyak hotel menawarkan delivery service untuk produk F&B ( Food & Beverage - Makanan dan Minuman).

Tetapi sayang nya mereka melakukan ini persis seperi yang di lakukan okeh UMKM ( Usaha Mikro Kecil dan Menengah ) dengan meyebarkan e flyer, e-brosur dengan harga di dalam nya. Tentu cara ini kelihatan sangat tidak sesuai dengan persepsi pasar yang hotel adalah Industri maju yang seharusnya memiliki platform digital untuk delivery service mereka

Selain itu hotel juga bisa jualan merchandise pada platform digital yang mereka bangun. Karena beberapa pelanggan tentu ingin memiliki beberapa merchandise yang unik dengan brand hotel yang menjadi langganan mereka. Merchandise itu seperti : T Shirt, Topi, Masker dengan kwalitas baik, dan beberapa produk yang di banyak di butuhkan saat ini.

Jadi, pada prinsipnya semua kita harus berfikir bagaimana sesuatu bisa di lakukan secara digital dan memiliki platform nya. Karena pelanggan sekarang ini agak enggan untuk melakukan human contact dan keengganan ini akan berlangsung lama bahkan setelah wabah ini. Satu hal yang mesti di antisipasi lainnya adalah bisnis dengan OTA ( Online Travel Agent). Saya sangat setuju dengan Bapak @Yusuf IJsseldijk yang menulis bahwa OTA mungkin akan mulai kehilangan pasar karena merasakan pengalaman betapa susah nya mendapatkan refund dari OTA dengan ada nya pandemic ini.

Jadi. Kedepannya pelanggan akan melakukan Direct Booking ( pemesanan langsung ke hotel). Tetapi apakah setiap hotel memiliki website yang lengkap dengan booking engine ( sistem automasi pemesanan kamar) dan payment gateway.

Dan yang perlu saya ingatkan juga adalah untuk hotel nantinya mendefiniskan term dan condition ( syarat dan ketentuan) yang lebih fleksibel. Sehingga pelanggan lebih nyaman untuk melakukan pemesanan kamar mereka.

Last but Not Least, start doing Digital Marketing with Google Ads, and others paid ads. Hubungi saya kalau anda ingin informasi lebih lanjut bagaimana membangun digital platform anda sebagai strategi utama anda untuk memenangkan persaingan pasar saat ini pada jaman yang serba digital ini.

64 tampilan