ETNOGRAFI KULINER (2) : SAMBAL BAJO

Diperbarui: Mei 25

Masyarakat Bajo yang dikenal sebagai suku laut merupakan proto melayu tua yang sejarahnya bisa ditarik hingga abad ke 2 sebelum masehi. Sebagian besar mereka hidup di seluruh kepulauan Indonesia Timur, namun diasporanya sampai ke Madagaskar dan pulau-pulau sepanjang laut China Selatan hingga jepang. Populasi Masyarakat Bajo di Indonesia kurang lebih 7-11 juta orang yang menempati 80% dari 6000 pulau terhuni di Indonesia.

Dengan sejarah yang panjang tersebut Suku Bajo memiliki kekayaan budaya yang tiada terkira, tak terkecuali soal sambal menyambal ini. Puaanjang dan buueesaar sejarahnya, Beib.

Suku Bajo atau Orang Samma'~ sebutan mereka, dikenal sebagai "Hantu/Dewa Laut yang hidup" serta berbagai macam julukan lainnya. Sebab Di Masa kolonial dulu, merekalah pendekar-pendekar lautan yang merompaki kapal-kapal penjajah dan konon bisa menghilang begitu saja.



Mereka terbiasa hidup berpindah pindah dari satu pulau ke pulau lainnya, atau bertahan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun di atas rumah perahu. Sebagian kini memang sudah menetap diperkampungan perkampungan di pesisir, ada yang bertani, berdagang, jadi PNS, tentara, Polisi, Bupati, tapi secara umum kebiasaan merantau dan mengarungi lautan ini jelas tidak bisa dihilangkan begitu saja.

Karena kebiasaan berpindah-pindah itu ciri utama kulinernya jelas sejelas jelasnya pasti bernafaskan laut dengan karakter : ringan, cepat, mudah disajikan, gampang dibawa2, awet, serta nendang di lidah!

Ya. Seperti Sambal Bajo produksi Bandar Sambal ini. Asli, Bajooo bingitz. Bahannya sangat sederhana. Hanya cabe, bawang merah, putih, minyak kelapa dan ikan asin. Tanpa terasi. Namun entah mengapa rasanya Masyaallahh bingitz, Beib.

Benar, kuncinya ada pada ikan asinnya. Dan itu merupakan jenis ikan khusus (Orang Lombok/Sasak menyebutnya Bajo Lembain yang berekor hijau) dan biasanya diproses langsung di tengah laut (di jemur di perahu atau bagang).


adi meskipun proses pembuatan sambelnya sederhana dan cepat, namun prosesnya panjang juga jika dihitung dengan proses berburu dan pembuatan ikan asinnya ya? Tapi sungguh, sangat setimpal dengan rasanya. Hiegenis, sehat, tanpa bahan kimia APBD dan mitcin Alam Barzakh. Eh, ini Penjoewal Kopi Gimbal ngomong apaan lagi to? Suweekkk lambene.

Syruuppuutt2...Yuukkk hajar saja sambal bajonya! huahhh pedazznya maknyusss nan. ada manis2 daging ikannya.

Tulisan ini di tulis oleh : Mas Paox Iben - 17 November 2017.




4 tampilan